Gaza: Ketika Keteguhan Mengubah Segalanya

https://themuslim500.com/

Di zaman ketika pengaruh sering diukur dari jumlah pengikut, jabatan, dan kekuatan militer, The Muslim 500 Edisi 2026 datang membawa standar yang berbeda.

Buku ini seolah ingin mengatakan bahwa ada satu hal yang tidak bisa dipalsukan oleh propaganda atau dikalahkan oleh senjata: keteguhan manusia yang mempertahankan martabatnya. Di titik inilah Gaza hadir, bukan sebagai statistik, tetapi sebagai cermin nurani dunia.

Mengukur Pengaruh dengan Nurani
Dalam pengantar bukunya, The Muslim 500 merumuskan ulang makna pengaruh:
“Influence is not always measured by authority or wealth, but by the ability to shape conscience and alter the global conversation.” (The Muslim 500, 2026, Introduction)
Pengaruh, menurut buku ini, bukan hanya soal kuasa, tetapi tentang siapa yang mampu menggugah kesadaran dan mengubah arah percakapan dunia.

Dengan standar ini, Gaza menjadi batu uji. Siapa yang bersuara untuknya, siapa yang memilih diam, dan siapa yang berani menanggung risiko demi menyampaikan kebenaran, itulah ukuran pengaruh yang baru, dan menjadi kerangka tersendiri dalam menilai pengaruh para tokoh dunia.

Maka tidak mengherankan jika jurnalis, tenaga medis, dan pembela kemanusiaan yang bertahan di Gaza juga diposisikan sebagai aktor berpengaruh. Mereka mungkin tidak memegang jabatan, tetapi mereka memegang kebenaran.

Gaza sebagai Person of the Year: Dari Individu ke Makna
Pada bagian Persons of the Year, The Muslim 500 membuat keputusan yang tidak biasa. Alih-alih mengangkat satu figur terkenal, buku ini memilih perjuangan rakyat Gaza sebagai simbol Man and Woman of the Year. Pilihan ini bukan retorika emosional, melainkan pernyataan moral.

Buku tersebut menulis:
“By honouring them as The Muslim 500’s Man and Woman of the Year, we affirm that their struggle is not theirs alone, but belongs to all who believe in human dignity, freedom, and the right to live on one’s land.”

(Dengan mengangkat mereka sebagai Man and Woman of the Year, kami menegaskan bahwa perjuangan mereka bukan hanya milik mereka, melainkan milik semua orang yang percaya pada martabat manusia, kebebasan, dan hak untuk hidup di tanahnya sendiri).
(The Muslim 500, 2026, Persons of the Year, hal. 6)

Di sini, Gaza tidak lagi ditempatkan sebagai objek belas kasihan global, tetapi sebagai subjek sejarah yang berbicara tentang nilai-nilai universal.

Pengaruh Gaza dalam Skala Dunia

Alasan penetapan tersebut dijelaskan secara eksplisit:
“They are surviving one of the most horrific assaults on humanity that has been witnessed.”
(The Muslim 500, 2026, Introduction)
“Mereka sedang bertahan hidup dari salah satu serangan paling mengerikan terhadap kemanusiaan yang pernah disaksikan.”

Dalam kerangka The Muslim 500, bertahan hidup dalam serangan terhadap kemanusiaan itu sendiri merupakan bentuk pengaruh. Gaza memengaruhi dunia Muslim bukan karena kekuatan memaksa, tetapi karena daya guncang moral yang ditimbulkan oleh penderitaan dan keteguhan mereka.

Penempatan Gaza di awal edisi menegaskan bahwa apa yang terjadi di Gaza adalah peristiwa paling berpengaruh bagi dunia Muslim dalam setahun terakhir, lebih dari isu politik nasional, ekonomi, atau kepemimpinan individual.

Pengaruh itu antara lain dalam hal perubahan cara dunia memandang isu keadilan, hak hidup sipil, batas etika perang, dan klaim universal hak asasi manusia.

Derita Gaza, tidak lagi milik Gaza saja, tapi menjadi isu kemanusiaan dunia. Melihat kehancuran sistemik yang terjadi di Gaza, umat Islam global tidak lagi hanya berhadapan dengan isu politik Palestina, tetapi dengan pertanyaan eksistensial: apakah nilai kemanusiaan masih punya makna ketika rumah sakit dibombardir? Di sinilah Gaza menjadi aktor pengaruh tanpa senjata.

Buku ini memotret kehancuran sistem kesehatan, blokade pangan dan air, serta serangan terhadap fasilitas sipil sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup masyarakat.
“Israel systematically bombed all of Gaza’s own hospitals—most infamously the Ahli hospital, killing over 500 civilians—bringing the entire medical system to its knees under the pretext that they harboured ‘terrorist tunnels’ underneath them.”
“Israel secara sistematis membombardir seluruh rumah sakit milik Gaza—yang paling terkenal adalah Rumah Sakit Ahli, yang menewaskan lebih dari 500 warga sipil—hingga melumpuhkan seluruh sistem kesehatan, dengan dalih bahwa rumah sakit-rumah sakit tersebut menyembunyikan ‘terowongan teroris’ di bawahnya.” (The Muslim 500, 2026, hal. 76)

Buku ini menempatkan Gaza bukan sekadar dalam kerangka konflik politik, tetapi dalam kategori krisis kemanusiaan menyeluruh. Ini bukan lagi tentang siapa menang dan kalah, melainkan tentang apakah kemanusiaan masih punya batas.

Gaza sebagai Simbol Kekuatan
Dalam bingkai The Muslim 500 Edisi 2026, Gaza tidak digambarkan sebagai simbol kekalahan.
Ia justru menjadi simbol kekuatan: kekuatan iman di tengah kehancuran, kekuatan keluarga di bawah blokade, dan kekuatan moral yang memaksa dunia bercermin.

Gaza mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu terlihat dalam kemenangan militer, tetapi dalam keteguhan mempertahankan martabat saat segalanya dirampas.

Bagi pembaca yang ingin memahami peta pengaruh umat Islam hari ini, bukan dari sudut kekuasaan, tetapi dari sudut nilai, nurani, dan keberanian moral, membaca penelitian ini bukan sekadar referensi, melainkan kebutuhan intelektual dan kemanusiaan.

Dari Warga Gaza kita belajar keteguhan hati dan kemampuan untuk bertahan. Dari mana sumber kekuatan itu? Kita semua sudah tau jawabannya. Sumber kekuatan mereka adalah Al-Quran….!

Sumber utama:
The Muslim 500: The World’s 500 Most Influential Muslims, 2026,
Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC), Amman, Jordan.

Home


https://bit.ly/m500-2026

Leave A Reply

Navigate