ulama

10 Posts Back Home

Tamu Sekaligus Guru

Tamu Sekaligus Guru Saya pernah merasakan kedua-duanya; jadi pihak yang diundang dan juga yang mengundang . Kedua-duanya punya hak, kewajiban, dan cerita masing-masing. Saya mulai dari yang pertama dulu ya. Ketika jadi undangan. Saya yakin, dakwah dan memberi nasehat kepada manusia itu menjadi bagian dari kewajiban sosial dalam hidup. Dengan itu kita dapat menebar manfaat di tengah masyarakat. Adanya undangan itu sebenarnya bagian dari karunia besar, sebab kita diberi kesempatan berbicara dan orang lain siap mendengarkan. Masya Allah. Memangnya saya ini siapa sampai harus didengarkan? Semua ini semata-mata karena karunia Allah dan rasa husnu zhann di hati panitia dan tuan rumah. Panitia dan tuan rumah menyebarkan undangan dan iklan di media sosial, mengundang orang datang baik online dan offline. Seharusnya saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada panitia sudah diberi kesempatan. Sudah begitu, pas pulang kadang dikasih amplop. Ya kadang-kadang ada isinya, kadang juga kosong 😀 Seperti yang terjadi…

Mengagumkan

Bagi saya, orang yang paling mengagumkan adalah orang yang paling bisa bertahan lama menjaga amal. Tidak lagi sekedar keinginan, tapi sudah jadi kebiasaan, bahkan karakter. Kegiatan itu sudah ada tempat dalam hidupnya. Artinya, kegiatan tersebut sudah punya tempat khusus setelah sebuah kegiatan permanen. Katanya sih butuh kira kira 21 hari bertahan melakukan suatu hal, baru akhirnya ia jadi kebiasaan. Ya, sebenarnya perjuangan utama kita ada dalam 21 hari pertama itu. Salah satu contoh terbaik dalam hal ini adalah Ust Muin. Sejak 2012 saya tinggal bertetangga dengan Ust Muin. Sekitar 9 tahun. Dari sekian hal yang membuat saya kagum adalah kekuatan beliau bertahan menjaga kebaikan. Sampai ada yang bilang Ustadz Muin itu Wali dari segi kemampuan menjaga amal itu. Kokoh  dalam prinsip dan mampu bertahan, jauh lebih baik dari seribu kekeramatan. Al Istiqamah Khairun min Alfi karaaamah. Demikian kata Ibnu Taimiyah. Shalat 5 waktu tidak pernah terlambat. Suara beliau yang khas…

Berkunjung ke Makam Ust Muin

Kunjungan bahasa arabnya Ziarah. Sebagaimana kata ini digunakan untuk orang yang masih hidup, kata “Ziarah” juga digunakan untuk orang yang sudah wafat. Ini menunjukkan bahwa antara orang yang masih hidup dan orang yang sudah wafat masih ada hubungan. Demikian kata Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Ar Ruh.

Seperti apa hubungannya?

Janji Perjuangan

Nasyid ini semoga dapat menerjemahkan janji perjuangan dari para guru, Untuk melanjutkan perjuangan perjuangan beliau *Janji Perjuangan* هل ترانا نلتقي أم أنها ** كانت اللقيا على أرض السرابِ ثم ولت وتلاشى ظلها ** واستحالت ذكريات للعذاب Benarkah kita pernah benar-benar bertemu, ataukah Pertemuan kita hanya oase fatamorgana Yang cepat berlalu dan hilang bayangannya hingga kenangan itu meninggalkan nestapa هكذا يسأل قلبي كلما ** طالت الأيام من بعد الغياب فإذا طيفك يرنو باسماً ** وكأني في استماع للجواب Begitulah hatiku bertanya selalu Setiap hari berlalu sejak kita tak bertemu Lalu bayangmu seakan tersenyum di hadapan Dan akupun setia menanti jawaban أولم نمضي على الدرب معاً ** كي يعود الخير للأرض اليباب فمضينا في طريق شائك ** نتخلى فيه عن كل الرغاب Bukankah kita berjalan bersama dalam perjuangan Agar bumi yang kering ini dipenuhi kebaikan Kitapun melangkah di tanah yang berduri Berlepas diri dari semua yang membenci ودفنا الشوق في أعماقنا…

Rahasia Kemuliaan (Pesan Ust Muin di Majlis Murojaah)

Malam Rabu Bakda Isya seperti ini, kami biasanya murojaah Al Qur’an bersama Ustadz Muin, sejak bertahun-tahun yang lalu. Keistiqamahan beliau sangat menakjubkan. Beliau selalu hadir dan membersamai kami, para muhaffiz, di PPTQ Ibnu Abbas untuk menjaga hafalan Al Qur’an. Dilanjutkan dengan tadabbur beliau tentang ayat ayat yang kami baca. Mendengar uraian beliau, ayat-ayat Allah yang mulia terasa sangat aktual, sesuai keadaan, dekat dengan kehidupan, dan menjadi jawaban atas beragam persoalan. Salah satunya adalah saat mentadabburi QS. Shaad ayat 45-47. Sebuah rangkaian ayat yang bercerita tentang orang orang yang mulia dan sebab sebab kemuliaan mereka. وَٱذۡكُرۡ عِبَـٰدَنَاۤ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ وَإِسۡحَـٰقَ وَیَعۡقُوبَ أُو۟لِی ٱلۡأَیۡدِی وَٱلۡأَبۡصَـٰرِ. إِنَّاۤ أَخۡلَصۡنَـٰهُم بِخَالِصَةࣲ ذِكۡرَى ٱلدَّارِ. وَإِنَّهُمۡ عِندَنَا لَمِنَ ٱلۡمُصۡطَفَیۡنَ ٱلۡأَخۡیَارِ ” _Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi)_ ” ” _Sungguh, Kami telah menyucikan mereka dengan sebuah penyucian; yaitu selalu ingat kepada negeri akhirat_ ” ” _Dan…

Pilihan Istiqamah

Siapakah orang yang paling menakjubkan? Itulah yang sempat menjadi pertanyaan di benak saya beberapa waktu lamanya. Apakah orang yang palig tampan? Bukan Paling kaya? Bukan Paling pintar? Bukan juga Saya temukan, orang yang paling menakjubkan adalah orang yang paling kuat bertahan istiqamah dalam keyakinan dan amal perbuatan. Keyakinannya tak berubah dalam dalam perjalanan waktu. Dan Ia mampu mnjaga satu amal dalam hitungan waktu yang panjang. Contoh Saya selalu kagum dengan orang yang seperti itu. Seperti abah saya. Sejak kecil dan sampai saya berpisah dengan beliau ketika kembali berangkat ke Mesir tahun 2007, waktu abah hanya terbagi tiga: mengajar, kerja, dan melayani masyarakat. Bakda subuh sampai dhuhur untuk mengajar. Bakda dhuhur sampai asar bekerja di Kebun. Bakda Asar mengajar lagi. Bakda Maghrib sampai jam 10 malam melayani masyarakat, mengisi pengajian, majlis taklim, dan lainnya. Hampir tidak ada perubahan. Selalu seperti itu setiap waktu. Selama puluhan tahun. Sampai santri dan masyarakat hafal…

Hari Hari Terakhir

Hari Hari Terakhir Ramadhan 1379. İtulah hari hari terakhir Badiuzzaman Said Nursi. Beliau menyempatkan diri mengunjungi murid muridnya di Ankara, Konya, Emirdağ dan beberapa kota di Turki lainnya. Setiap kali datang ke kota kota itu, selalu dihadang oleh polisi yang berusaha membubarkan kerumunan massa. Setelah dari Emirdağ, kesehatannya mulai menurun. Beliau menderita radang paru-paru. Ustadz Nursi melanjutkan perjalanan ke İsparta. Dalam keadaan panas yang tinggi, beliau meminta untuk melanjutkan perjalanan ke Urfa. Selain menahan sakit, beliau juga menghadapi pantauan polisi, juga niat jahat Gubernur Konya yang ingin menumpas murid murid Nur hingga ke akar-akarnya. Dalam perjalanan yang berat itu, 3 murid pilihan setia menemani beliau. Mereka adalah: Zubeir, Mustafa Sungur, dan Hüsnü Bayram. Sampai akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir pada pkl. 03 dini hari, Rabu 23 Maret 1960/25 Ramadhan 1379, ketiga murid itu setia bersama beliau. Alhamdulillah tadi malam (Kamis, 29/5/20) saya bertemu dengan salah satu murid yang berbakti itu:…

Hari Terakhir Bersama Syekh Abdul Hamid

Sabtu 2 Ramadan 1441/25 April 2020 Inilah hari terakhir kami bersama guru tercinta syekh Abdul Hamid. Hari Senin, 27 April beliau akan terbang ke Mesir dengan pesawat evakuasi Cairo Air. Kami berbuka puasa di rumah Ust Mu’in di Solo sekalian shalat di Masjid Awwabin. Kami shalat Tarawih di Masjid Ma’wal Awwabin diimami Ust Darus Mahfuzi. Syekh ke Jakarta ditemani oleh Pak Karim, Ust Luqman Abdullah, dan Ust Darus yang rencana selama dalam perjalanan ini akan mengkhatamkan Qira’at Ibnu Amir. Syekh Abdul Hamid sempat menulis surat untuk Ma’had Ibnu Abbas yang kemudian saya terjemahkan ke Bahasa Indonesia. Berikut surat beliau: Ucapan Terima kasih Kepada Ma’had Ibnu Abbas (Baik pihak manajemen, guru-guru, maupun ibu-ibu kebersihan & dapur) Saya merasa bahagia dan mulia mendapatkan kesempatan untuk mengajar dan berinteraksi dengan anda sekalian. Saya merasakan adanya kesungguhan, keseriusan dan tekad yang kuat pada Anda semua. Pada beberapa bulan ini, Alhamdulillah 14 orang-orang…

Syekh Abdul Hamid

Tahun 2008, ketika mengawali pendidikan S2 di Universitas Al Azhar, saya mendaftar masuk ke Asrama Mahasiswa di bawah asuhan Jam’iyyah Mishr Al-Mahrusah. Tempatnya di Muqattham. Jauh sekali dari kawasan mahasiswa Indonesia, yang rata-rata waktu itu tinggal Hay Asyir, Nasr City. Dari Nasr City, harus naik lebih dari sejam ke kawasan Sayyidah Aisyah, kemudian nyambung lagi untuk ke Muqattham. Tidak langsung ke Asrama. Bisnya berhenti di persimpangan dekat bukit Muqattham, setelah itu baru mendaki berjalan kaki ke atas. Hanya ada satu bis yang lewat depan asrama langsung, tapi itupun waktu menunggunya kadang lama dan waktunya tidak menentu. Di asrama itu saya sekamar dengan Alwin dari Aceh dan Umar Abdillah dari Nigeria. Saya kenal dengan teman dari Sudan, Eriteria, India, Syiria, Pakistan, Aljazair, dan dari berbagai negara lainnya yang tinggal di asrama itu. Direktur Pelaksana Hariannya namanya Ust. Asyraf dan Direktur Yayasan namanya Ust. Muhammad Basyir. Satpamnya namanya Husam. Guru qurannya banyak.…

Cerita Dari Balik Ruang Seminar

Pagi Senin (16/7/2019) tiba di Jakarta. Senin malam ini kami kembali pulang. Penuh bahagia. Sebab mendapatkan kesempatan berkenalan dan belajar lebih dekat dengan para guru. Ada guru besar dari Indonesia seperti Prof. Andi Faisal Bakti, Prof. Amani Lubis, dan Ibunda beliau, Prof. Nabila Lubis. Dari Turki ketemu dengan Prof.Alparslan Acikgenc, Prof. Ahmet Keyacik, Dr. Osman Yapar, dan Direktur Istanbul Foundation, Said Yuce. Antum bisa membayangkan, betapa ketar ketirnya hati saya saat harus berbicara dihadapan mereka. Plus hadirin dan hadirat mahasiswa dan para dosen yang hadir pada Seminar Internasional ini. Senin, 16 Juli 2019 Pkl. 09.00-16.00 di Ruang Diorama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tetapi saya memberanikan diri untuk berkata-kata, seperti seorang anak kecil yang baru belajar sekolah, lalu pulang bercerita dengan semangat tentang apa yang ia dengar dan lihat di sekolah kepada ayah ibunya. Lalu dari situlah si anak itu belajar. Bercerita pakai bahasa apa? Saya dan Syekh Mohammad Luthfil Anshori…

Navigate