pikiran

2 Posts Back Home

Hujan di Pagi Subuh

Tik..tik…tik.. Bunyi rintik hujan di atas genteng di pagi subuh itu, seringkali menggoda untuk melanjutkan tidur. Atau minimal shalat shubuh di rumah. Toh tetap dapat jamaah juga bersama anak dan dan istri. Tapi tentu tidak seutama ketika di Masjid. Sementara di masjid dekat rumah sudah terdengar lantunan shalawatan yang menarik-narik hati untuk berangkat. Pertanda tidak lama lagi akan qamat. Setelah wudhu, saya paksakan diri ke masjid, mengayuh sepeda dengan cepat, menerobos rintik hujan. Feelling saya benar, bahwa hujan akan semakin deras. Terbukti suara gemerisik air yang jatuh menimpa atap masjid dengan keras. Harusnya tadi saya bawa jas hujan, supaya bisa kembali dengan segera. Tapi sampai kini masih tertahan. Maka seusai shalat saya tetap berdiam di masjid, menunggu hujan reda. Sementara para jamaah meninggalkan masjid satu persatu. Mungkin mereka bawa payung. Yang tersisa tinggalah 3 orang, yaitu saya, muazzin, dan imam masjid. Lalu disinilah beberapa titik keharuan dan pelajaran hidup saya…

Berkunjung ke Makam Ust Muin

Kunjungan bahasa arabnya Ziarah. Sebagaimana kata ini digunakan untuk orang yang masih hidup, kata “Ziarah” juga digunakan untuk orang yang sudah wafat. Ini menunjukkan bahwa antara orang yang masih hidup dan orang yang sudah wafat masih ada hubungan. Demikian kata Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Ar Ruh.

Seperti apa hubungannya?

Navigate