Jejak yang Tak Pernah Hilang

Kalau engkau datang ke Kampus 1 Ibnu Abbas Klaten di Desa Belangwetan, Klaten Utara, engkau akan melihat Masjid Muinudinillah untuk santri putri berdiri megah, lengkap dengan ruang pertemuan dan perkantoran di bawahnya.

Dulu, yang menangani pembangunan masjid itu secara teknis lapangan adalah Pak Slamet Nur Chamdani bersama timnya yang solid.

Begitu pula Gedung Alexandria di belakangnya yang sekarang menjadi asrama santriwati. Beliau juga yang dahulu memimpin pembangunannya.

Datang ke Kampus 2 Ibnu Abbas di Troso, di sana ada Masjid Muinudinillah untuk santri putra. Beliau pula yang memimpin pembangunannya. Begitu juga ruang rapat dan dauroh di atas kantor kesantrian dan ketahfizhan, lapangan futsal di sampingnya, hingga gedung sekolah yang dibangun setelahnya.

Lanjut ke Kampus 3 Ibnu Abbas di Jatinom. Di sana berdiri Masjid Al Barokah, gedung asrama KMI empat lantai, ruang kelas, kantor, hingga perumahan asatidzah. Lagi-lagi beliau yang memimpin proses pembangunannya.

bersama pak slamet (berdiri paling kanan), ketua, dewan pembina, pengurus yayasan ibnu abbas

Memimpin pembangunan seperti itu bukan pekerjaan sederhana.

Beliau harus ikut memikirkan rancangan bangunan bersama arsitek, berkomunikasi dengan yayasan soal pembiayaan, mengatur jadwal pengerjaan, memilih bahan dan ukuran, mengambil keputusan teknis di lapangan, hingga menyelesaikan persoalan dengan warga saat truk material lewat di jalan kampung. Kadang harus bertemu kepala desa, RT, RW, dan mengurus banyak hal teknis lainnya.

Karena itu, beliau jarang sekali terlihat duduk-duduk di kantor, walaupun sudah disediakan ruang kerja dan meja rapat khusus.

Tempat kerja beliau justru ada di antara tumpukan pasir, material bangunan, gazebo proyek, pinggir cor-coran, atau melalui sambungan telepon.

Semua dijalani dengan penuh semangat, padahal usia beliau sebenarnya sudah tidak muda lagi.

Bergabung ke Ibnu Abbas

Dunia pembangunan sebenarnya bukan hal baru bagi Pak Slamet. Sejak lama beliau sudah terlibat dalam berbagai proyek besar di Solo dan sekitarnya.

Hari-harinya dipenuhi urusan proyek dan birokrasi pemerintahan. Kesibukan itu berjalan bertahun-tahun tanpa bisa dihentikan siapa pun, bahkan oleh keluarganya sendiri.

Beliau sangat menikmati ritme hidup seperti itu. Sampai akhirnya tubuhnya tumbang. Beliau jatuh sakit dan sempat dirawat cukup berat di rumah sakit.

Di masa sakit itulah beliau membuat tekad besar dalam hidupnya.

Jika Allah masih memberinya umur, beliau ingin memanfaatkan sisa hidupnya untuk dakwah dan menolong agama Allah dengan semua kemampuan yang dimilikinya.

Di masa itulah beliau mulai dekat dengan Almarhum Ustadz Muin Rahimahullah.

Bersama Ustadz Muin, Pak Slamet (berdiri kedua dari kanan), dan para pimpinan ibnu abbas

Hubungan mereka sangat dekat. Pak Slamet hampir selalu menemani perjalanan dakwah Ustadz Muin, terutama perjalanan luar kota. Beliau menjadi teman diskusi, teman perjalanan, sekaligus tempat berbagi berbagai persoalan berat.

Bahkan beliau termasuk orang yang mendorong Ustadz Muin mendirikan PPTQ Ibnu Abbas Klaten setelah tidak lagi berada di Assalaam Surakarta.

Sejak lama Ustadz Muin sebenarnya berharap Pak Slamet bergabung penuh ke Ibnu Abbas. Namun beliau baru benar-benar aktif setelah purna tugas sebagai pegawai negeri sekitar tahun 2019.

Dan sejak saat itu, beliau benar-benar menyerahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk perjuangan dakwah.

Sosok yang Teguh dan Tulus

Dengan pengalaman hidup yang panjang, Pak Slamet adalah pribadi yang sangat kuat pendirian. Kalau sudah meyakini sesuatu, tidak mudah mengubah pandangan beliau.

Beliau selalu berbicara terus terang dalam keadaan apa pun. Argumentasinya kuat, pengalamannya panjang, dan pemahaman falsafah Jawanya juga sangat dalam. Dalam banyak obrolan, beliau sering mengutip ungkapan dan filosofi Jawa dengan spontan.

Tetapi di balik ketegasan itu, ada ketulusan yang sangat terasa.

Beliau tidak sedang mencari nama, pengaruh, atau uang. Beliau sudah selesai dengan urusan dunia. Secara materi, beliau sebenarnya sudah berkecukupan. Namun beliau memilih dengan sadar untuk berlelah-lelah di jalan perjuangan.

Karena itu, tidak banyak orang yang bisa memengaruhi cara pandang beliau. Dan salah satu yang mampu melakukan itu adalah Ustadz Muin Rahimahullah.

Kalau sudah Ustadz Muin yang berbicara, Pak Slamet bisa sangat hormat dan tunduk.

Walaupun tegas, beliau juga sangat fair. Kalau merasa salah, beliau mudah mengakui tanpa gengsi. Beliau juga sosok yang jenaka dan pandai mencairkan suasana.

Lelaki yang Selalu Bergerak

Beberapa kali saya melakukan perjalanan luar kota bersama beliau: ke Ponorogo, Bogor, Jakarta, Tegal, dan beberapa tempat lainnya.

Fisik beliau sebenarnya sangat kuat. Kalau menyetir mobil, lajunya cepat dan penuh percaya diri. Ke mana-mana beliau juga selalu membawa sepatu olahraga.

Setelah Subuh, beliau biasa jogging memakai sepatu olahraga kesayangannya.

Saya masih ingat perkataan beliau suatu waktu dalam perjalanan ke Ponorogo:

“Ustadz, kalau sepatu kantor itu saya seadanya. Tapi kalau sepatu olahraga, saya pilih yang paling bagus. Supaya semangat olahraga. Ini investasi.”

bersama pak slamet (berdiri di tengah) di kampung maghfirah

Aktivis Penggerak di Balik Layar

Dari mengenal Pak Slamet, Ustadz Muin, Ustadz Syihab, dan beberapa asatidzah Solo Raya lainnya, saya jadi sedikit memahami bagaimana pergerakan dakwah Islam di Solo Raya berjalan.

Saya jadi mengenal banyak tokoh dan aktivis dari berbagai elemen: DSKS, MTA, Takmirul Islam, dan lainnya.

Menariknya, hampir setiap ada pertemuan besar umat Islam di Solo Raya, Pak Slamet selalu ada di sana.

Entah di Balai Kota, di gedung MTA, saat aksi Palestina, atau Parade Tauhid, saya sering bertemu beliau di tengah banyak aktivis.

bersama pak slamet (kedua dari kanan), Ust Syihab dan Ust Abdurrahim di Balaikota Surakarta

Belakangan saya sadar, beliau bukan sekadar hadir. Beliau adalah salah satu penggerak di balik layar dari banyak aktivitas itu.

Temannya banyak. Jaringannya luas. Dan beliau selalu bergerak tanpa banyak bicara.

Ketika Waktu Istirahat Itu Tiba

Namun semua manusia pada akhirnya akan sampai pada titik istirahatnya.

Beberapa waktu terakhir beliau dirawat di rumah sakit. Bergantian istri, anak-anak, menantu, dan cucu-cucunya menemani beliau.

Kadang beliau tertidur lama hingga tidak sadarkan diri. Tetapi setiap kali terbangun, yang pertama kali beliau minta adalah:

“Shalat…”

Setiap bangun, beliau minta shalat.

Setiap bangun, beliau minta shalat.

Hingga akhirnya napas beliau berhenti… dan tidak bangun lagi.

Beliau memang sudah tidak bisa lagi shalat, tilawah, atau bergerak dalam dakwah seperti dahulu.

Namun amal jariyahnya tetap hidup.

Di masjid-masjid, asrama, ruang kelas, dan pesantren yang beliau bantu bangun, para santri masih terus membaca Al-Qur’an, murojaah, menambah hafalan, dan belajar agama.

Dan semua pahala itu—insya Allah—akan terus mengalir kepada beliau.

Begitu pula kenangan tentang sosoknya: pekerja keras, penuh semangat, tangguh, tulus, dan tidak pernah berhenti bergerak untuk perjuangan.

Kami akan selalu merindukan Pak Slamet.

Dan rasanya tidak ada satu pun yang benar-benar bisa menggantikan beliau.

Pak Slamet bukan hanya pekerja lapangan. Beliau adalah sosok bapak, sahabat perjuangan, sekaligus pemimpin yang hebat. Sosok yang kuat memegang prinsip, tetapi lembut dalam ketulusan. Sosok yang banyak bekerja tanpa banyak bicara.

Jejak beliau tidak hanya tertinggal pada bangunan-bangunan yang berdiri kokoh, tetapi juga pada hati orang-orang yang pernah mengenalnya.

Semoga Allah merahmati beliau, menerima seluruh amalnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

🌱 Ikuti Tulisan Terbaru

Dapatkan tadabbur Al-Qur’an, catatan perjalanan, inspirasi keluarga, dan refleksi kehidupan langsung melalui WhatsApp Channel.

📲 Ikuti Channel WhatsApp Umarulfaruq Abubakar

“Menebar inspirasi, menyalakan cahaya kebaikan.”

Navigate