Tahun 2006.
Siang itu saya baru saja selesai shalat Zuhur di Masjid Al-Azhar, Kairo, Mesir. Saat itu saya masih menjadi mahasiswa di sana. Setelah menunaikan shalat sunnah ba’diyah Zuhur, saya melihat di samping saya ada seorang lelaki gagah yang sedang shalat.
Beliau mengenakan pakaian yang sangat sederhana: kemeja putih, jas dan celana hitam, dengan jenggot yang hampir seluruhnya memutih. Wajahnya teduh, tenang, dan memancarkan kewibawaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Awalnya saya hanya memperhatikan sekilas. Namun ternyata bukan hanya saya yang memperhatikan beliau. Beberapa mahasiswa lain juga mulai mendekat dan berkerumun pelan.
Ternyata orang itu adalah Ismail Haniyya.
Ya, Perdana Menteri Palestina saat itu.

Setelah selesai shalat, beliau langsung berdiri dan menyapa kami dengan sangat ramah:
“Assalamu’alaikum ya syabab, kaifa halukum?”
Beliau mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum hangat.
Kami pun menjawab salam beliau dengan penuh takzim dan haru.
Saya masih mengingat suasana itu dengan sangat jelas. Semuanya terasa begitu sederhana. Tidak ada pengawalan ketat. Tidak ada hiruk-pikuk protokoler. Tidak ada jarak antara seorang pemimpin dengan rakyat biasa.
Setelah berbincang ringan beberapa saat, beliau pun meminta izin melanjutkan kegiatannya.
Kami hanya memandang beliau berjalan keluar masjid hingga sosoknya hilang di balik pintu.
Sendirian.
Ya, seorang diri tanpa pengawal seorang pun.
Jejak Digital yang Masih Tersimpan
Kenangan itu terus tersimpan di kepala saya selama bertahun-tahun. Waktu itu belum punya HP yang canggih sehingga tidak sempat foto-foto. Hingga akhirnya rasa penasaran menggoda saya untuk menelusuri kembali jejak peristiwa tersebut.
Saya pun meminta AI melakukan deep research tentang kunjungan Ismail Haniyya ke Mesir pada waktu itu.
Ternyata benar, kunjungan tersebut dilakukan hanya beberapa hari setelah beliau diangkat menjadi Perdana Menteri Palestina tahun 2006.

Kunjungan perdananya ke Mesir dimulai pada Selasa malam, 28 November 2006. Mesir dipilih bukan hanya karena kedekatan geografisnya dengan Gaza, tetapi juga karena posisi Kairo sebagai mediator penting dalam konflik Palestina dan hubungan dengan Israel.
Ismail Haniyya sendiri merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perjuangan Palestina modern.
Lahir di kamp pengungsian Gaza pada tahun 1962, beliau bergabung dengan Hamas sejak awal berdirinya pada masa Intifadhah Pertama tahun 1988. Setelah beberapa kali dipenjara dan sempat dideportasi, beliau kemudian menjadi sekretaris pribadi Syekh Ahmad Yasin, pendiri Hamas.
Karier politiknya mencapai puncak ketika Hamas memenangkan pemilu legislatif Palestina tahun 2006 dan beliau diangkat menjadi Perdana Menteri Palestina. Setelah konflik internal dengan Fatah tahun 2007, beliau menjadi pemimpin de facto Jalur Gaza hingga tahun 2014.
Pada tahun 2017, beliau terpilih sebagai Kepala Biro Politik Hamas dan sejak 2019 aktif memimpin diplomasi internasional Hamas dari luar negeri, termasuk dalam berbagai negosiasi penting terkait Gaza.
Hingga akhirnya, pada 31 Juli 2024, beliau syahid dalam sebuah operasi pembunuhan rahasia di Teheran, Iran, sesaat setelah menghadiri pelantikan presiden baru Iran.

Tentang Orang-Orang yang Datang Sebentar, Tapi Membekas Lama
Pertemuan itu sebenarnya sangat singkat. Tetapi entah kenapa terasa begitu membekas. Sampai hari ini pun saya masih mengingatnya dengan jelas, seakan baru terjadi kemarin sore.
Waktu itu Palestina sedang berada dalam perjuangan yang sangat berat. Namun dari wajah dan sikap beliau, yang terlihat justru ketenangan, kesederhanaan, dan kedekatan.
Siang itu saya belajar satu hal:
Bahwa kewibawaan tidak selalu lahir dari kemewahan dan pengawalan. Kadang ia justru lahir dari perjuangan, kesederhanaan, dan ketulusan seorang pemimpin.
Pertemuan itu singkat.
Tetapi kenangannya tidak pernah benar-benar pergi.
Saya beberapa kali menemukan kenyataan seperti ini dalam hidup: ada orang yang hadir sangat sebentar, bertemu hanya sekali, bertamu tidak lama, tetapi keberkahannya terasa panjang dan pengaruhnya menetap di hati.
Mungkin karena sebagian manusia memiliki pancaran ruh, kekuatan pribadi, dan ketulusan yang membuat kehadirannya sulit dilupakan.
Dan Ismail Haniyya adalah salah satunya.
🌱 Ikuti Tulisan Terbaru
Dapatkan tadabbur Al-Qur’an, catatan perjalanan, inspirasi keluarga, dan refleksi kehidupan langsung melalui WhatsApp Channel.
📲 Ikuti Channel WhatsApp Umarulfaruq Abubakar“Menebar inspirasi, menyalakan cahaya kebaikan.”