Kamis sore itu (21/5/2026), saya sedang berada di Esensi Cafe, sebuah kafe bernuansa klasik di Kampung Batik Laweyan, Surakarta.
Kami ngobrol bertiga: Ustadz Syihab, Ir. Hariyadi, Ph.D., dan saya sendiri.

Suasana sore berjalan santai seperti biasa. Sampai kemudian datang seorang tamu yang membuat obrolan kami berubah arah menjadi sangat menarik.
Beliau adalah Imam Shamsi Ali—ulama asal Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan—yang kini menjadi Imam Besar Islamic Center of New York sekaligus Imam dan Direktur Jamaica Muslim Center, New York, salah satu komunitas Muslim terbesar di kota itu.
Nama beliau tentu sudah sangat dikenal di dunia internasional. Bahkan pernah masuk dalam daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia versi Georgetown University dan The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Yordania.
Beliau datang bersama Pak Thoha dan Dr. Supawi dari UNIBA, lalu langsung bergabung di meja tempat kami duduk.
Masya Allah, beliau sangat supel dan ramah. Tidak butuh waktu lama, obrolan pun mengalir ke banyak hal: perkembangan Islam di Amerika, peluang dakwah di Barat, hingga kemenangan Zohran Mamdani yang awalnya memiliki elektabilitas kurang dari 1%, namun akhirnya berhasil terpilih menjadi wali kota.
Di tengah obrolan, saya iseng bertanya—sesuatu yang sebenarnya sejak lama membuat saya penasaran:
“Afwan ustadz, Imam itu nama antum atau gelar?”
Beliau tersenyum lalu menjawab ringan:
“Itu gelar penghormatan untuk pemimpin agama. Nama saya Shamsi Ali.”

Datang ke Indonesia untuk Menerima Penghargaan
Imam Shamsi Ali bercerita bahwa kedatangannya ke Indonesia kali ini adalah untuk menerima penghargaan UMY Awards 2026, setelah terpilih dari sembilan kandidat yang masuk proses seleksi.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., didampingi Ketua Tim Seleksi Dr. Suswanta dan Sekretaris Tim Seleksi Prof. Dr. Suciati, M.Si., dalam Rapat Senat Terbuka di Gedung AR Fachruddin B Lantai 5 Kampus Terpadu UMY, Sabtu (23/5).
Ada beritanya di sini:
https://www.suaramuhammadiyah.id/read/dari-kajang-ke-new-york-imam-shamsi-ali-terima-umy-awards-2026
https://www.umy.ac.id/imam-shamsi-ali-terima-penghargaan-umy-awards-2026/
Di acara itu, beliau menyampaikan fakta menarik tentang perkembangan Islam di Amerika Serikat. Menurutnya, jumlah Muslim di Amerika saat ini diperkirakan mencapai 10–15 juta jiwa—jauh di atas data resmi pemerintah yang hanya mencatat sekitar 5–7 juta Muslim.
Perkembangan itu terlihat dari meningkatnya jumlah masjid di Amerika: dari sekitar 200 masjid pada awal 1960an menjadi lebih dari 4.500 masjid hari ini. Bahkan Kota New York saja memiliki lebih dari 300 masjid.
Beliau juga menjelaskan bahwa sekitar 20–25% Muslim di Amerika adalah para mualaf, mayoritas berasal dari kalangan Afrika, Amerika dan Latin. Menariknya, belakangan mulai muncul gelombang ketertarikan Islam dari warga kulit putih Amerika.
Menurut beliau, fenomena ini terjadi karena Islam dipandang sebagai agama yang rasional, seimbang, dan mampu menjawab kekosongan spiritual masyarakat modern.

Peluang Dakwah Santri Indonesia di Amerika
Sebetulnya kami dari FORMAQIN ingin mengadakan acara khusus bersama beliau, mengumpulkan para asatidzah dari berbagai pondok pesantren untuk mendengarkan peluang dakwah di Barat sekaligus bertukar pikiran.
Namun jadwal beliau sangat padat. Hari Senin beliau harus kembali ke Amerika karena hari Rabu, 27 Mei 2026, sudah dijadwalkan menyampaikan khutbah Idul Adha di sana.
Kesempatan itu pun kami manfaatkan untuk bertanya tentang peluang dakwah bagi santri Indonesia di Amerika.
Beliau menjelaskan bahwa paling tidak ada dua program besar yang bisa dimanfaatkan.
- Program Kunjungan Santri ke Amerika
Program ini mengajak para santri berkunjung ke berbagai institusi pendidikan, universitas, dan bertemu tokohtokoh agama—baik Muslim maupun nonMuslim.
Tujuannya adalah memberikan pengalaman langsung kepada santri dalam berinteraksi dengan masyarakat Barat dan komunitas nonMuslim secara positif dan terbuka.
- Pengiriman Imam Muda Asal Indonesia
Program kedua adalah pengiriman imam muda Indonesia ke berbagai masjid di Amerika selama bulan Ramadan.
Kriteria utamanya: hafal AlQur’an,memiliki bacaan yang bagus, dan mutqin dalam hafalan.
Beliau menegaskan bahwa anak-anak muda Indonesia memiliki kelebihan yang sangat menonjol dibandingkan dari banyak negara lain, yaitu hafalan yang kuat, suara yang merdu, makhraj yang tepat, serta kemampuan belajar yang cepat.
Itulah yang membuat imam-imam muda asal Indonesia sangat disukai jamaah di sana.
Bahkan saat ini sudah ada beberapa yang berkembang menjadi imam tetap di Amerika.
Alhamdulillah, tiga alumni kami dari PPTQ Ibnu Abbas juga pernah menjadi imam di sana.

Program ini difasilitasi oleh yayasan milik beliau, Nusantara Foundation, yang bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, dan pembangunan pesantren—termasuk mendirikan pesantren pertama di Amerika Serikat.
Adapun tantangan terbesar saat ini adalah persoalan visa dan kebijakan imigrasi yang semakin ketat. Namun beliau tetap optimis peluang dakwah itu akan terus terbuka ke depan.
Sore itu, di sebuah sudut Laweyan yang tenang, kami tidak hanya ngobrol tentang Amerika.
Kami sedang melihat satu hal yang lebih besar: bahwa santri-santri Indonesia ternyata memiliki peluang untuk berdakwah hingga ke jantung dunia modern.
Dan mungkin, sebagian dari mereka saat ini masih duduk sederhana di ruang-ruang tahfizh belum menyadari bahwa suatu hari nanti, suaranya bisa menggema dari mimbar-mimbar New York.
🌱 Ikuti Tulisan Terbaru
Dapatkan tadabbur Al-Qur’an, catatan perjalanan, inspirasi keluarga, dan refleksi kehidupan langsung melalui WhatsApp Channel.
📲 Ikuti Channel WhatsApp Umarulfaruq Abubakar“Menebar inspirasi, menyalakan cahaya kebaikan.”