Ada satu nikmat spiritual yang sering tidak disadari manusia, tetapi menjadi pembeda besar antara hidup yang terarah dan hidup yang penuh penyesalan: nikmat furqān—kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana pilihan yang membawa keberkahan dan mana yang membawa kerusakan.
Allah menyebut nikmat ini sebagai hadiah khusus bagi orang-orang bertakwa.
Banyak orang cerdas, berpendidikan, bahkan sukses secara materi, tetapi tetap salah dalam memilih jalan hidup. Kesalahan memilih pasangan, pekerjaan, lingkungan, gaya hidup, bahkan sumber ilmu—sering kali bukan karena kurangnya informasi, tetapi karena hati tidak diberi kemampuan melihat dengan benar.
Di sinilah nilai furqān. Ia adalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati, sehingga seseorang mampu berkata:
“Ini benar meskipun sulit. Ini salah meskipun menguntungkan.”

Dalam kehidupan sehari-hari, furqān terlihat dalam keputusan-keputusan sederhana namun bernilai besar.
Ketika seseorang hendak membuka peluang bisnis, ia mampu menahan diri dari sumber rezeki yang syubhat, meski terlihat menjanjikan. Sementara orang lain berkata, “Yang penting untung,” ia berkata, “Yang penting halal dan diridhai Allah.”
Ketika seseorang tersakiti, furqān membuatnya memilih memaafkan, bukan membalas dendam. Ia tahu bahwa kemenangan sejati bukan pada melukai balik, tetapi pada menjaga hati tetap bersih.
Ketika teman-teman mengajak pada sesuatu yang sia-sia atau maksiat, furqān membuatnya berani berkata tidak, meskipun ia harus berdiri sendirian. Ia tidak menukar harga diri akhirat dengan penerimaan sosial sesaat.
Ketika teknologi, hiburan, dan informasi membanjiri hidup, furqān membantunya memilih konten yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menumpulkan iman atau merusak pandangan.
Saat ia diuji antara mengikuti hawa nafsu atau aturan Allah, furqān memberikan kejernihan bahwa jalan taat, meski berat di awal, selalu berakhir dengan ketenangan.
Hidup telah banyak memberikan pelajaran:
Betapa banyak luka dalam hidup yang terjadi karena salah memilih.
Betapa banyak penyesalan muncul karena mengikuti dorongan sesaat.
Betapa banyak hati gelisah karena kehilangan arah.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا
Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu (QS. Al Anfal 29)
Maka ayat ini bukan hanya informasi, tetapi undangan lembut:
“Jika kamu ingin hidup yang jelas jalannya, tenang keputusannya, dan ringan hisabnya—jadilah orang yang bertakwa.”
Ayat ini mengingatkan:
Jika kita ingin keputusan yang tepat, bukan sekadar cepat;
Jika kita ingin jalan yang lurus, bukan sekadar nyaman;
Jika kita ingin hidup yang berkah, bukan sekadar sukses
Furqān tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari takwa—dari hati yang selalu waspada terhadap dosa, selalu berusaha dekat dengan Allah, dan selalu memeriksa niat sebelum bertindak.
Takwa bukan berarti seseorang selalu benar, tetapi ia selalu ingin benar. Ia tidak merasa paling suci, tetapi ia takut kehilangan panduan Allah.
Semoga kita menjadi bagian dari mereka.