
Kadang kita mengira bahwa menjalankan pedoman dan tata cara hidup Islami berarti hidup terikat, penuh aturan, dan terbebani oleh tuntutan agama. Namun Ibnul Qayyim mengingatkan dalam kitab I‘lāmul Muwaqqi‘īn ‘an Rabbil ‘Alamīn bahwa: pedoman hidup yang Allah turunkan melalui Al-Qur’an dan sunnah itu dibangun di atas rahmat, keadilan, hikmah, dan kemaslahatan manusia.
Semakin seseorang memahami Islam, semakin ia merasakan kelembutan dan kedamaian dalam setiap perintahnya. Panduan hidup Islami bukan tembok pembatas, tetapi jembatan menuju hidup yang lebih jernih, bermartabat, dan terarah.
Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ajaran Islam adalah penyejuk mata, penghidup hati, dan kebahagiaan ruh. Ia adalah kehidupan bagi jiwa, makanan bagi fitrah, obat bagi penyakit batin, cahaya bagi pandangan hati, penyembuh luka batin, dan penjaga dari penyimpangan.
Setiap bentuk kebaikan yang ada dalam kehidupan—seluruhnya bersumber dari syariat yang Allah tetapkan dan terwujud melalui pengamalannya. Dan setiap kekurangan atau kerusakan yang muncul—penyebab utamanya adalah karena petunjuk itu diabaikan atau ditinggalkan.
Jika kita melihat kehidupan sehari-hari, nilai-nilai hidup Islami hadir dalam hal-hal sederhana yang justru memberi makna. Seorang muslim yang bangun lebih awal untuk Shalat Subuh misalnya. Ia mungkin mengorbankan kenyamanan tidur, namun setelah selesai Shalat ia merasakan ketenangan yang tidak bisa dibeli.
Ia memulai hari dengan kesadaran bahwa hidupnya memiliki tujuan. Kehadiran Shalat 5 Waktu dalam hidup membawa kedamaian dan ketenangan batin yang sejati.

Begitu pula ketika ia menjaga lisannya dari ghibah dan dusta, memilih pekerjaan halal meski hasilnya belum besar, atau menahan marah ketika ia mampu membalas. Semua itu bukan sekadar ketaatan teknis, tetapi terapi bagi jiwa agar tetap lembut, terjaga, dan tenang.
Pada level keluarga, pedoman hidup Islami tidak hanya berbicara tentang akad nikah dan pembagian warisan. Ia hadir dalam suasana rumah yang penuh saling memaafkan, dalam kebiasaan makan bersama sambil membaca doa, dalam orang tua yang mendidik anak bukan hanya dengan instruksi, tetapi dengan teladan dan kasih sayang.
Ketika seorang ayah menahan egonya dan memilih dialog dengan anak remaja yang sedang mencari jati diri; ketika seorang ibu mengajarkan doa kepada balita dengan sabar meskipun anak sulit duduk diam—itulah ajaran Islam yang menghidupkan hati. Rumah seperti ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi tempat penuh sakinah yang membuat penghuninya pulang dengan senyuman.
Di masyarakat, panduan hidup Islami tampak dalam budaya saling menolong. Lembaga zakat yang bekerja profesional membantu keluarga miskin membayar sekolah anak-anaknya. Gerakan wakaf membangun klinik gratis, pesantren, taman baca, dan sumur bersih di daerah yang membutuhkan.
Pedagang menolak curang meski memiliki kesempatan. Petugas kota mengembalikan dompet yang ditemukan tanpa mengambil sedikit pun isinya. Semua sikap itu mungkin terlihat sederhana, tetapi ia menciptakan masyarakat yang aman, saling percaya, dan terhormat.
Pada level negara, ajaran Islam tidak identik hanya dengan hukuman. Ia berbicara tentang tata kelola yang adil: pemimpin dipilih bukan karena kedekatan, tetapi karena amanah dan kapasitas; anggaran publik diperlakukan sebagai amanah, bukan warisan politik; keadilan ditegakkan tanpa melihat kedudukan, suku, atau status.
Dalam bidang ekonomi, prinsip Islam melarang riba, manipulasi pasar, dan eksploitasi. Dalam bidang budaya dan seni, ekspresi diarahkan untuk membangkitkan kesadaran, bukan merusak martabat manusia.
Ketika nilai-nilai ini menjadi fondasi kebijakan dan ruang publik, manusia merasakan perlindungan, bukan tekanan; penghormatan, bukan pemanfaatan.
Islam tidak hanya mengatur salat dan puasa. Ia membawa cara solusi untuk mewujudkan Dunia yang adil,Ekonomi yang bermartabat, Teknologi yang manusiawi, Peradaban yang berakhlak, dan umat manusia yang hidup dalam keamanan dan kasih sayang.
Di tengah dunia yang diliputi ketidakpastian, peperangan, krisis moral, dan kekacauan nilai, Islam hadir bukan sebagai wacana ideal, tetapi solusi nyata.
Di sinilah kata-kata Ibnul Qayyim terasa hidup: saat aturan islam dijaga, di sana kehidupan tumbuh; saat ia ditinggalkan, di situlah kerusakan muncul.
Sebab sejatinya, petunjuk Allah bukan beban. Ia cahaya yang menuntun manusia menavigasi hidup yang kompleks, obat bagi hati yang letih, dan kompas ketika manusia bingung menentukan arah.
Pada akhirnya, refleksi dari nasihat Ibnul Qayyim ini mengantar kita pada satu pertanyaan penting:
Apakah tuntunan hidup Islami sudah menjadi arah hidup kita, atau masih sebatas teks yang kita baca tanpa kita jalani?
Karena kebahagiaan dalam Islam bukan sekadar mengetahui hukum, tetapi menjadikannya cara berpikir, berbicara, berperilaku, dan membangun dunia di sekitar kita.
Ketika petunjuk Allah menjadi gaya hidup, bukan hanya pengetahuan, barulah seseorang merasakan bahwa Islam bukan hanya keyakinan. Islam adalah jalan menuju hidup yang mulia dan ba
(duakhalifah.com)
=========
Nasehat Ibnul Qayyim selengkapnya:
قال ابن القيم -رحمه الله- في كتاب إعلام الموقعين: أن الشريعة الباهرة التي هي في أعلى رُتَب المصالح لا تأتي به؛ فإن الشريعة مبناها وأساسها على الحِكم ومصالح العباد في المعاش والمعاد، وهي عدل كلها، ورحمة كلها، ومصالحُ كلها، وحكمة كلها؛ فكل مسألة خرجت عن العدل إلى الجور، وعن الرحمة إلى ضدّها، وعن المصلحة إلى المفسدة، وعن الحكمة إلى العبث فليست من الشريعة وإن أُدخِلت فيها بالتأويل.
فالشريعة عدلُ الله بين عباده، ورحمته بين خلقه، وظلُّه في أرضه، وحكمته الدالة عليه، وعلى صدق رسوله أتمَّ دلالة وأصدقَها، وهي نوره الذي به أبصر المُبصِرون، وهُداه الذي به اهتدى المهتدون، وشفاؤه التامّ الذي به دواء كل عليل. وطريقه المستقيم الذي من استقام عليه فقد استقام على سواء السبيل. فهي قرة العيون، وحياة القلوب، ولذة الأرواح؛ فهي لها الحياة والغذاء والدواء والنور والشفاء والعصمة، وكل خير في الوجود فإنما هو مستفاد منها وحاصلٌ بها.
وكل نقصٍ في الوجود فسببه من إضاعتها. ولولا رسومٌ قد بقيتْ. وهي العصمة للناس وقِوام العالم، وبها يمسك الله السماوات والأرض أن تزولا، فإذا أراد الله -سبحانه- خرابَ الدنيا وطيَّ العالم رفع إليه ما بقي من رسومها. فالشريعة التي بعث الله بها رسوله هي عمود العالم، وقطب رَحَى الفلاحِ والسعادة في الدنيا والآخرة