
Ada fase dalam hidup ketika Al-Qur’an hanya dibaca sebagai rutinitas. Kita membuka mushaf, menyelesaikan target harian, lalu menutupnya tanpa ada perubahan berarti dalam diri maupun cara berpikir.
Namun ketika seseorang mulai menyadari bahwa yang sedang dibacanya bukan karya ilmiah atau tulisan manusia, melainkan kalam Allah yang Maha Mengetahui seluruh rahasia dirinya, hubungan itu tiba-tiba menjadi berbeda.
Mushaf tidak lagi terasa sebagai sekedar bacaan, tetapi seperti surat cinta dari langit; seperti pegangan yang menghubungkan hati manusia dengan Rabb-nya.
Perubahan besar dimulai ketika seorang hamba memahami tujuan Al-Qur’an diturunkan. Ia menyadari bahwa Al-Qur’an bukan hadir untuk memberatkan hidup, melainkan untuk menerangi gelapnya hati dan pikirannya yang buntu.
Ayat-ayatnya membawa keluasan rahmat dan arah hidup yang jelas: mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, membimbing akal agar lurus, memperbaiki jiwa agar bersih, dan memuliakan manusia agar tidak hidup tanpa arah atau di bawah kendali syahwat dan hawa nafsu.
Ketika seseorang mulai berinteraksi seperti itu, ia tidak lagi membaca dengan terburu-buru, tetapi dengan hati yang hadir. Tilawah menjadi momen perjumpaan, bukan tugas.
Ia memperbaiki bacaan karena merasa malu jika melafalkan kalamullah secara serampangan. Ia mencari guru, belajar tajwid, dan berusaha membaca perlahan dengan tartil, seakan-akan ayat yang dibaca sedang disampaikan langsung kepada Allah.
Perlahan, ia memahami bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya tentang banyaknya halaman, tetapi tentang kualitas dan kehadiran hati di hadapan firman-Nya.
Pada titik berikutnya, muncul keinginan untuk menghafal. Hafalan tidak selalu banyak, tetapi ia dijaga sepenuh hati. Setiap ayat yang berhasil dihafalkan memberi rasa kedekatan yang berbeda; rasanya ada cahaya Al-Qur’an menetap di dada.
Hafalan tersebut kemudian mengantar dirinya kepada pemahaman. Ia mulai mempelajari arti, membuka tafsir, mencari makna mufradat, dan berusaha menangkap maksud Allah di balik ayat tersebut. Di sini, hubungan dengan Al-Qur’an naik kelas: dari bacaan menjadi panduan berpikir.
Pemahaman kemudian menuntut pengamalan. Ketika seseorang benar-benar mengerti isi Al-Qur’an, ia tidak sanggup lagi membiarkan ayat hanya menjadi informasi. Ia mulai memperbaiki diri, memperbaiki ibadah, memperbaiki akhlak, dan memperbaiki relasi dengan sesama. Al-Qur’an menjadi cermin yang menampakkan kekurangan dan mengarahkan langkah perbaikan.
Ia kemudian menyadari bahwa kandungan Al-Qur’an tidak hanya relevan untuk dirinya, tetapi juga untuk keluarga dan lingkungan sekitarnya. Pada tahap ini, ia mulai menyampaikan ayat yang ia pahami dan rasakan manfaatnya kepada orang lain. Dakwah bukan lagi peran ustaz semata, tetapi kewajiban setiap muslim yang telah merasakan manisnya petunjuk.

Namun perjalanan bersama Al-Qur’an tidak selalu mudah.
Di sinilah seseorang belajar bahwa berpegang pada Al-Qur’an adalah bentuk jihad, bukan hanya terhadap musuh luar, tetapi juga melawan kemalasan, kelalaian, pemikiran yang salah, dan arus budaya yang melemahkan iman. Butuh keteguhan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai standar kebenaran, bukan sekadar referensi spiritual.
Perjalanan ini hanya mungkin dijalani dengan kesabaran. Tanpa sabar, tilawah akan putus di tengah jalan, hafalan akan hilang, pemahaman tidak berkembang, dakwah melemah, dan komitmen terhadap nilai Al-Qur’an semakin menurun.
Pada akhirnya, seseorang yang sungguh-sungguh berinteraksi dengan Al-Qur’an akan menemukan bahwa kitab ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk membentuk jiwa dan memimpin hidup.
Al-Qur’an ada untuk menyertai perjalanan seseorang sejak ia membuka mata hingga kembali kepada Tuhannya. Dan orang yang bersabar dalam perjalanan ini akan merasakan bahwa Al-Qur’an bukan hanya menemani hidup di dunia, tetapi akan menjadi penolong di kubur dan pembela pada hari penghisaban.
Begitulah. Berinteraksi dengan Al Quran itu ada seninya. Ada prinsip-prinsipnya. Dengan mengikuti prinsip-prinsip itu, maka kita akan menikmati setiap interaksi itu dengan penuh kenikmatan
(Disarikan dari Kita Usus At Ta’amul Ma’al Qur’an Al Kariim karya Dr. Washfi Asyur Abu Zaid)
Kajian selengkapnya di bisa diikuti di: