Belajar Dari Dar El Wihdah Sragen

Kunjungan ke Pondok Dar El Wihdah Sragen
Oleh: @umarulfaruq.abubakar
Sabtu 9 Oktober 2021, Alhamdulillah saya bisa ikut Silaturrahim Forum Maahid Quran Indonesia @forum.maahid.quran ke Pondok Pesantren Dar El Wihdah Sragen.
Dari Al Wihdah kami jadi banyak belajar tentang pewarisan misi dan risalah dakwah dari orang tua kepada anak anaknya. Tahun 1993, dari pabrik batik yang diubah jadi pondok pesantren, Ma’had yang khusus untuk itqan dalam hafalan dan dakwah Al Qur’an berdiri. Hingga kini sudah ada sekitar 100 pondok yang didirikan oleh para alumni
Sepeninggal Kiai Abdul Halim Dimyati, pendiri pondok Dar El Wihdah, perjuangan mengelola pesantren diteruskan oleh 10 putra putri beliau yang pada umumnya belajar di Timur Tengah.
Di pondok penuh berkah ini, santri fokus menghafal Al-Qur’an sampai khatam, dengan setoran hafalan sistem Sabqi (hafalan baru), Sabaq (Muroja’ah 10 halaman sebelumnya dari hafalan baru), dan Manzil (Muroja’ah hafalan lama), dilanjutkan belajar Qiraat Sab’ah dan baca kitab dalam program Ta’lim ‘Aly.
Selain itu mereka terjun ke dakwah masyarakat dalam program Khuruj secara rutin.
Alhamdulillah diterima oleh Ustadz Faiz, Ustadz Nizham, Ustadz Azhim, Ustadz Bilal, Ustdz Dzul Faqar, Ustadz Khairul Shaleh, Ustadz Nurdin, dan para asatidzah lainnya dengan penuh keramahan.
Kami sempat diajak berkeliling ke Masjid 3 lantai tempat belajar para santri, sekaligus tempat hiziban Qur’an para asatidzah.
Ketika Ramadhan, di lantai pertama Masjid ini dilaksanakan shalat tarawih 1 juz setiap malam, di lantai kedua 2 juz setiap malam, dan di lantai ketiga 5 juz setiap malam.
Bila pada umumnya pondok pesantren ada waktu khusus untuk penerimaan santri baru, maka pondok Dar El Wihdah menerima santri sepanjang tahun. Tentu syaratnya berlaku, yaitu selama masih ada kuota dalam halaqah.
Hitungannya begini: satu halaqah diampu oleh satu muhaffiz dengan 15 anggota. Muhaffiz ini yang akan mendampingi santri mengkhatamkan hafalan Al Qur’an sampai tuntas. Ketika ada santri yang lulus, tempatnya di halaqah itu bisa diisi santri lainnya.
Setiap tahun bisa meluluskan puluhan santri hafiz Al Qur’an. Haflan ikhtitam di Bulan Ramadhan, kemudian secara resmi mulai pembukaan penerimaan santri di Bulan Syawal.
Setelah tuntas hafalan, santri bisa melanjutkan mengambil sanad qiraat dan ta’lim Ma’had Aly, sekaligus sebagai pengabdian. Lama pembelajaran 3 – 7 tahun, sesuai tingkat kemampuan menyelesaikan hafalan.
Usia santri masuk dari usia SD sampai 22 tahun. Dalam sesi wawancara masuk, setiap santri yang masuk dipastikan siap untuk setoran hafalan kepada yang lebih muda dari segi usia. Sebab banyak santri yang sudah khatam dalam usia yang sangat belia.
Di sana mereka memang khusus untuk menghafal Al-Qur’an tanpa mendapatkan ijazah formal, dan tidak menyediakan pembelajaran mapel umum sekalipun itu Paket A, B, atau C.
Tetapi para alumninya ada yang kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyah, Fakultas Syari’ah, dan Fakultas Al Qur’an Universitas Al Azhar Mesir, Fakultas Al Ahqaf Yaman, dan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia, yang rata-rata menyaratkan adanya ijazah.
Contohnya Ustadz Muhammad Azwar Anas, Ustadz Azim Halim , Ustadz Faiz dan lainnya
Jadi bagaimana caranya?
Bagi yang sekolah di Mesir, mereka datang dengan membawa ijazah Al Qur’an dari pondok untuk masuk program kelas khusus, atau dirasah khaashah. Bagi mereka program ini relatif mudah, sebab pelajaran Al Qur’an dan Bahasa Arab sudah tuntas ketika di pondok. Mereka mendaftar kuliah dengan ─░jazah Dirasah Khaashah ini.
Di pondok memang tidak ada pelayanan ujian paket, tapi pihak pondok mengizinkan santri yang ikut program paket di luar pondok. Setelah dapat ijazah paket itu, baru lanjut ke sekolah berikutnya.
Contoh lainnya Mas Muhammad Aufa Aulia . Sekolah SD di Nur Hidayah Surakarta, kemudian fokus menghafal Al-Qur’an di Dar El Wihdah 3 tahun, setelah itu melanjutkan SMA di PPTQ IbnuAbbas Klaten dengan mendaftar pakai ijazah paket B, lalu dengan ijazah itu ia melanjutkan di Fakultas Kedokteran UII.
Jadi soal ijazah buka masalah lagi.
Yang pasti, semua lulusan dari sini Mutqin hafalan 30 juz dan punya wawasan tentang Qiraat. Mereka juga punya kepedulian kepada masyarakat, sebab langsung melihat lebih dekat dan ikut menyampaikan dakwah ke masjid masjid melalui program Khuruj.
Alhamdulillah saya di Forum Maahid Quran Indonesia Formaqin bisa mengenal beberapa corak dan kelebihan pondok pesantren, sehingga punya harapan bisa mensinergikan kelebihan satu pondok dengan yang lainnya, bisa mengarahkan anak sesuai cita cita, sekaligus bertukar informasi tentang problem solving di pondok masing masing.
Dan yang tidak kalah mengesankan dari Dar El Wihdah adalah ikramudhuyufnya. Sampai kami merasa malu dan tersipu-sipu dengan pelayanan yang istimewa. Terutama saat makan siangnya dengan jamuan makan yang istimewa.
Ya, selalu ada keberkahan dan kebahagiaan saat bertemu orang orang shaleh. Dari Dar El Wihdah kami belajar tentang pembinaan santri penghafal Al-Qur’an, keaktifan santri berdakwah di masyarakat, dan juga penghormatan tamu yang istimewa.
Dan bersama https://formaqin.com/ kami ingin terus bersinergi dan menjalin silaturahim dengan pondok pondok Al Qur’an di Indonesia

Leave A Reply

Navigate