Hujan di Pagi Subuh

Tik..tik…tik..
Bunyi rintik hujan di atas genteng di pagi subuh itu, seringkali menggoda untuk melanjutkan tidur. Atau minimal shalat shubuh di rumah. Toh tetap dapat jamaah juga bersama anak dan dan istri.

Tapi tentu tidak seutama ketika di Masjid.

Sementara di masjid dekat rumah sudah terdengar lantunan shalawatan yang menarik-narik hati untuk berangkat. Pertanda tidak lama lagi akan qamat.

Setelah wudhu, saya paksakan diri ke masjid, mengayuh sepeda dengan cepat, menerobos rintik hujan.

Feelling saya benar, bahwa hujan akan semakin deras. Terbukti suara gemerisik air yang jatuh menimpa atap masjid dengan keras. Harusnya tadi saya bawa jas hujan, supaya bisa kembali dengan segera. Tapi sampai kini masih tertahan.

Maka seusai shalat saya tetap berdiam di masjid, menunggu hujan reda. Sementara para jamaah meninggalkan masjid satu persatu. Mungkin mereka bawa payung.

Yang tersisa tinggalah 3 orang, yaitu saya, muazzin, dan imam masjid.

Lalu disinilah beberapa titik keharuan dan pelajaran hidup saya dapatkan.

hujan di waktu subuh (www.tribunnews.com)

Muazzin Yang Setia
Dalam kilat yang paling menggelegar sekalipun, dalam malam yang paling gulita, dari masjid itu tidak pernah terlewatkan suara azan subuh satu hari pun.

Memang itu kewajiban muazzin, saya pernah berfikir seperti itu. Tetapi sebagai muslim, semua tetap punya kewajiban sama untuk shalat shubuh tepat waktu.

Tapi bandingkanlah dengan keadaan saya.

Beliau bisa melawan kantuk, melawan dingin, untuk tetap berangkat ke masjid. Tidak pernah terlambat, masbuk atapun kesiangan. Padahal tempat tinggalnya bukan di masjid itu.

Ia datang dengan motor beatnya yang legendaris, kendaraan yang sekaligus ia gunakan untuk ngangon dan menggiring kambing-kambingnya. Sebab untuk berjalan dengan baik, dia tidak kuat. Kaki kanannya pincang. Berjalan tertatih-tatih. Berdirinya bengkok. Bahkan kalau duduk tahiyat, kaki kanan itu harus diluruskan ke depan. Namun kondisi itu tidak membuat ia patah semangat.

Keistiqamahannya untuk selalu hadir di masjid mengumandang azan, shalawatan, dan iqamah itu yang mengagumkan. Dan suara itulah yang terasa begitu kuat menarik-narik hati ini untuk berangkat ke masjid menerobos hujan.

Penjual Tempe di Pertigaan.

Seistiqamah muazzin itu adalah penjual tempe di pertigaan ke masjid. Setiap kali saya ke masjid, dalam waktu subuh yang berubah-ubah, selalu saya dapat beliau menata tempat ia berjualan tempe di pinggir jalan itu sebelum subuh. Ia melawan dingin untuk mempersiapkan bakul jualan, menata posisi batu-batu untuk dia berjualan nanti. Biasanya berdua bersama istrinya.

Waktu hujan masih rintik-rintik, saya melihat beliau masih menata. Entahlah ketika hujan deras seperti ini, bahkan sampai sekarang belum berhenti, entah bagaimana nasib beliau dan tempe-tempenya.

Keistiqamahan, kegigigihan, kekuatan hati untuk terus melakukan, dan tak pernah berhenti berbuat, bagi saya menjadi satu hal yang sangat mengagumkan.

Ternyata Hanya Suara

Kalau menuruti hati, saya maunya di masjid dulu sampai hujan berhenti.

Tapi saya harus mengajar pagi ini. Santri pasti sudah menunggu dalam halaqah tahfiz online. Saya melirik jam: 04.55. Berarti 5 menit lagi halaqah harus mulai.

Sementara gemerisik suara hujan yang jatuh di genteng masjid masih terdengar jelas.

Ah, tidak masalah. Toh kalaupun basah saya bisa ganti baju ketika tiba di rumah. Yang penting saya tidak terlambat halaqah. Saya keluar masjid, mengambil sepeda, dan mulai mengayuh.

Hmmm…
Saya tersenyum di dalam hati. Ternyata kondisi hujan tidak seheboh suara yang jatuh di atap.

Saya mengayuh sepeda dengan kencang untuk berburu waktu, sambil berusaha fokus dalam kegelapan, menghindari tanah becek, dan tanah berpasir.

Saya sampai di rumah, baju saya hanya sedikit basah dan tidak perlu diganti.

Satu pelajaran berarti: ternyata kalau kita jalani, semuanya akan baik-baik saja.

Oke. Demikian dulu cerita pagi ini.

Sampai ketemu di esok pagi ya…

Daa….

Leave A Reply

Navigate