Ridha dan Menerima

Ridha

 

Ridha dan Menerima

قُل لَّن یُصِیبَنَاۤ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ
مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡیَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

Katakanlah “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” [Surat At-Taubah 51]

Usaha dari kita, ketentuan dari Allah Ta’ala. Sebuah keyakinan sederhana, yang sudah cukup membuat diri bahagia.

Tetapi karena dasar keyakinan itu gaib, maka kadangkala kalah dengan apa yang tertangkap oleh panca indera.

Maka sepenuhnya 100 % persen perasaan, pikiran, dan tindakan kita pasrahkan kepada sebab sebab itu.

Yang paling mudah adalah menyalahkan, lalu melampiaskan dalam ucapan dan status di media sosial.

Soal covid 19 mungkin contoh yang paling dekat. “Kenapa saya harus kena? Kenapa anak saya harus terpapar? Kenapa hasil swab saya positif? Ini semua gara gara dia dan mereka semua…!”

“Mana punya banyak tugas, kondisi rumah tidak bisa buat isolasi, lagi tidak punya dana berobat..”

Dan seterusnya banyak lagi turunannya…

Terlalu banyak mengeluh membuat kita lupa: cara pertama dan utama dalam menghadapi masalah adalah memperbaiki pola pikir.

Ridha dan menerima keadaan. Menahan diri pada benturan yang pertama. Sikap itu membuat hati plong dan lapang. Untuk kemudian mulai mengambil langkah langkah terbaik setelah itu tanpa mengutuk keadaan.

Sebab hanyalah bagian dari rangkaian cerita takdir yang telah selesai ditulis 50.000 tahun sebelum langit dan bumi dicipta. Pena sudah diangkat dan catatan sudah kering.

Faman radhia falahu Ridha wa man sakhitha falahusukhth.
Siapa yang menerima ia akan mendapatkan Ridha, siapa yang murka ia akan mendapatkan kemurkaan pula.
Demikian Rasulullah menjelaskan.

Evaluasi penting. Langkah perbaikan penting. Konsultasi dan koordinasi penting.

Tetapi sebelum semua itu, yang pertama dan paling utama kita lakukan adalah ridha dan menerima.

Untuk hari hari mendatang, datanglah dengan penuh harapan. Kita jemput dengan tangan terbuka dan senyuman.

Untuk hari ini, kita lalui dengan penuh kesyukuran.

Untuk hari yang silam, selamat jalan ke masa lalu. Kita iringi kepergiannya dengan mohon ampunan atas sikap dan perilaku penuh kekhilafan.

Sungguh tidak akan menimpa melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kita semua. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’mannshir. Wa la Haula walaa quwwata Illa billahil aliyyil azhim

(Umarulfaruq Abubakar)
https://t.me/KomunitasCintaQu

Leave A Reply

Navigate