Melepas Kepergian Sang Guru

Menyaksikan ribuan orang yang hadir, melayat dan menyolatkan jenazah Ust. KH. Sunardi Syahuri, ingin rasanya saya yang meninggal dunia hari ini, lalu disholatkan oleh orang orang yang hadir.

Tapi tentu tidak mungkin.

Sudah ada ajal yang pasti untuk setiap orang. Dan ribuan orang yang hadir saat ini adalah buah perjuangan puluhan tahun tanpa kenal lelah dari beliau.

Bisa saja saya tidak hadir dalam pemakaman beliau, lalu beralasan sudah ada banyak orang lain yang hadir, saya punya kesibukan, saya tidak punya hubungan dekat dengan keluarga, saya bisa shalat gaib bersama para santri, dan alasan lainnya.

Tapi suara hati ini memanggil manggil untuk datang; memenuhi hak muslim dan rasa penghormatan terakhir kepada sang guru.

 

11 tahun sudah PPTQ IbnuAbbas Klaten berdiri, mendidik 1.297 santri penghafal Al Quran, meluluskan sekian ratus alumni.
Pondok ini hanya salah satu dari amal jariyah Ust. Sunardi, yang pahalanya akan terus mengalir.

Di samping pondok, masih banyak lembaga pendidikan dan lahan dakwah lain yang beliau rintis.

Pemilik 9 cabang Pamela Swalayan ini juga adalah Ketua Dewan Dakwah Yogyakarta, Pengurus FUI DIY, Pengawas badan Wakaf UII, Pembina 7 Yayasan pendidikan Islam Terpadu, aktif dalam dakwah, mengisi pengajian dan berbagai kegiatan sosial keumatan.

Saya beruntung berjumpa dengan beliau beberapa tahun lalu, saat pelantikan pimpinan IbnuAbbas.

Sosok yang gagah itu memberikan ceramah dan nasehat yang meyakinkan dan menguatkan.

Setelah itu saya bertemu beliau di kamar rumah sakit JIH.

Dalam perjuangan melawan sakit itu, mata beliau tetap memancarkan semangat, wajah beliau penuh keteduhan, dan dari satu dua patah kata yang terucap ada suntikan nasehat yang menggetarkan.

Terakhir kali bertemu tanggal 17 Oktober lalu, di ruang rumah sakit JIH, dengan kondisi yang semakin melemah tapi tetap tersenyum.

Ust Ali Ghufron, wakil direktur IbnuAbbas, bercerita sekilas tentang perkembangan pesantren, ditutup dengan kalimat: ini semua jariyah panjenengan.

Tiba-tiba tampak butiran butiran air keluar dari mata yang penuh keteduhan itu. Suara beliau tercekat.

Ya, kami hanya merintis apa yang dulu telah beliau awali.

Dan kini beliau kembali kepada Allah, dzat yang selama ini namaNya ia perjuangkan.

Sekali lagi saya mendapatkan pelajaran bahwa Kematian adalah pembuktian; pembuktian cinta, keikhlasan, penghormatan, dan perjuangan.

ولدتك أمّك يا ابن آدم باكيًا* والقوم حولك يضحكون سرورا
فاعمل ليومٍ أن تكون إذا بكوا* في يوم موتك ضاحكًا مسرورا

_engkau dilahirkan oleh ibumu dalam keadaan terisak, sementara orang orang di sekelilingmu tertawa gembira_

_maka beramallah untuk suatu hari, saat orang orang menangisi kepergianmu, engkau kembali dengan tertawa bahagia_

Doa kami mengiringi kepergian Ust Sunardi.

*duakhalifah.net*

Leave A Reply

Navigate