Gempa di Palu, Konser Musik di Boalemo

Bapak Bupati Boalemo, H. Darwis Moridu, dan wakil Bupati, Ir. Anas Yusuf, semoga bisa mempertimbangkan kembali rencana untuk mengadakan konser bersama artis Zaskia Gotik. Konser yang rencana akan diadakan pada tanggal 10 Oktober 2018 pkl. 19.00 di alun-alun Kota Tilamuta, dalam rangka memperingati ulang tahun ke 19 dari Kabupaten Boalemo memberikan kesan yang tidak baik bagi daerah.

Syukur-syukur ketika tulisan ini diterbitkan sudah turun kebijakan membatalkan konser tersebut.

Konser

Sebegitu teganya kah kita ?

Saat tetangga sedang berduka nestapa, sementara di sini bergoyang-goyang ria. Kota Palu masih terus memerlukan uluran tangan. Butuh banyak bantuan untuk penangan bencana dan proses pemulihan. Masyarakat Indonesia akan melihat aib yang tercoreng di kening kita saat melakukan konser dalam duka seperti ini.

Mengutip data yang disampaikan oleh Kompas, Rabu 3 Oktober 2018, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyatakan bahwa dari data BNPB hingga Rabu (3/10) sudah ada 1.407 orang meninggal yang sudah ditemukan akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Jumlah ini tersebar di Sigi dan Parigi Moutong.

Dari data 1.407 orang yang meninggal, 1.177 orang ditemukan di Palu, 12 orang di Parigi Moutong, 153 orang di Donggala, dan 65 orang di Sigi. Dari sekian jenazah, yang sudah dimakamkan 519 jenazah. Selain itu, sebanyak 2.549 orang luka berat dan tengah dirawat di rumah sakit. Data lainnya, masih ada 113 orang dinyatakan hilang dan 152 orang yang tertimbun.

Sementara jumlah pengungsi tercatat 70.821 orang  yang mengungsi di 141 titik pengungsian. Unit rumah yang rusak mencapai 65.733 rumah.

Jumlah ini tentu akan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

Dalam duka itu, masihkah Boalemo akan terus bergoyang?

Masih adakah empati yang tersisa?

Amal dan Dzikir Akbar

Namanya konser tetap akan menjadi konser dengan segala sifat dan konsekwensinya, walupun ditambah kata-kata “amal”  dan “peduli” di belakangnya. Kalimat “Konser Amal Boelemo Peduli Palu dan Donggala” tidak mampu menutup mata dan hati masyarakat melihat sisi hiburan yang hura-hura dan mubadzir di balik acara ini.

Apakah mengundang artis dan mengadakan acara tidak perlu dana? Puluhan juta bisa hilang melayang begitu saja dari acara ini.

Empati yang tinggi dari pemerintah dan keberpihakan kepada korban bencana, dengan kerja nyata dan aktif memimpin usaha mengumpulkan bantuan di kalangan masyarakat, berkoordinasi dengan simpul-simpul massa, tentu jauh lebih efektif dan memberikan pengaruh di hati warga.

Saya melihat, kata “Amal dan Peduli” itu hanya embel-embel. Esensinya adalah peringatan ulang tahun hari ulang tahun Kabupaten Boalemo yang ke 19. Dan acara konser ini sudah masuk dalam jadwal kegiatan daerah yang sudah direncanakan jauh sebelumnya.

Tetapi tidakkah menjadih sesuatu yang lebih arif lagi, bila bapak Bupati dan Wakil Bupati bisa lebih arif menyikapi kenyaataan yang ada?

Keinginan baik pemerintah daerah untuk menghibur warganya sudah bisa dipahami dan dimaklumi oleh warga. Pemerintah Daerah bisa mencarikan acara lain yang lebih kreatif untuk mengisi hari ulang tahun ke 19 dengan sesuatu yang lebih berarti bagi masyarakat,  tanpa  mengiris harus hati dan perasaan warga Palu, Donggala, Gorontalo dan rakyat Indonesia.

Kesan hiburan yang hura-hura dan mubadzir ini tidak serta merta hilang dengan adanya dzikir akbar “Doa Untuk Negeri” dari Kabupaten Boalemo untuk Palu, Sigi, dan Donggala, yang rencana akan diadakan pada esok hari, tanggal 11 Oktober 2018, pkl. 20.00, di Kantor Bupati Boalemo.

Kegiatan ini terasa hanya sebagai formalitas untuk mengimbangi kegiatan konser. Nilainya menjadi turun karena adanya konser di malam sebelumnya. Dalam agama diajarkan, tidak ada manfaatnya taubat formalitas untuk maksiat yang disengaja. Apalagi dipertontonkan ke publik.

Etika dan Empati

Rasa sosial dan kasih sayang melahirkan empati kepada orang yang tertimpa duka dan dirundung malang. Empati itu adalah sikap atau perilaku memahami suatu permasalahan dari sudut pandang atau perasaan orang lain. Empati lebih dari sekedar rasa kasihan, karena di dalamnya terdapat makna untuk menghargai dan menghormati orang lain di sekitarnya.

Perasaan empati memang tidak akan sepenuhnya menghapus duka saudara yang ditimpa musibah, tetapi setidaknya meringankan beban pikiran dan perasaan mereka. Sudah sewajarnya musibah yang menimpa orang lain dapat menyentuh sisi manusia dan kemanusiaan kita, melahirkan empati, untuk menunjukkan bahwa kita masih punya hati.

Musibah dan bencana adalah ketentuan Allah yang didasarkan pada ka Maha Baik-an dan ke-Maha Adil-an-Nya. Tidak ada satupun yang terjadi di dunia yang luput dari pengetahuan dan ketentuan Allah. Inilah pemahaman paling mendasar dalam ilmu tauhid. Bencana menjadi sebuah peristiwa yang menakutkan dan mengejutkan, karena keterbatasan manusia dalam memahami peristiwa dan memahami pengetahuan Allah yang terjadi dalam peristiwa tersebut.

Agama Islam yang berlandaskan kepada Tauhid memberikan acuan bagaimana menghadapi bencana. Karena pemahaman manusia akan pengetahuan Allah dan peristiwa yang terjadi sangt terbatas, maka Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk menguatkan hubungan dengan Allah melalui media dzikir dan doa.

Gempa dan Tsunami tidak hanya persoalan pergerakan lempengan bumi dan hukum alam. Namun ia adalah bagian dari ketentuan Allah yang sudah dijelaskan sebab musabbabnya dalam Al-Qur’an. Ketika Allah murka, segalanya bisa terjadi. Maka jangan lakukan apa yang Dia benci

Berempati kepada manusia dan beretika kepada Allah. Itulah yang pesan moral yang harusnya bisa kita tangkap dari musibah yang terjadi.

Dalam konser musik, adakah makna dari pelajaran itu bisa diambil?

(Dimuat di Rubrik Persepsi Harian Gorontalo Post, Jumat 5 Oktober 2018)

Leave A Reply

Navigate